Senin, 18 Maret 2013

Belajar dari Buku: Rekonstruksi Identitas Dayak


BAB I
INTISARI BUKU
REKONSTRUKSI IDENTITAS DAYAK

            Siapa yang tidak mampu untuk tidak memberikan apresiasinya serta mengucapkan “Proficiat” pada pengarang buku ini. Sebagai seorang yang terlahir dalam lingkungan masyarakat Dayak dan berjiwa Dayak, buku yang ditulis oleh Dr. Andreas Muhrotien., M.Si dengan judul Rekonstruksi Identitas Dayak  ini merupakan karya terbaik khususnya bagi masyarakat Dayak sendiri untuk mengenal secara lebih dekat mengenai identitas terluhurnya. Di awal pembahasan buku ini dikatakan bahwa konflik-konflik yang muncul antara etnis Dayak dengan suku lain atau antar sesama Dayak disebabkan oleh identitas sosial pribadi orang Dayak itu sendiri masih terbelakang. Hal ini muncul dengan sendirinya dengan pengkondisian yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda sebelum tahun 1946 (karena tanggal 30 September 1946, orang Dayak mulai terlibat dalam dunia politik dan birokrasi).
            Tampilnya orang Dayak di panggung politik dan birokrasi mulai menguatkan secara perlahan identitas Dayak di Kalimantan Barat. Identitas itu dari waktu ke waktu semakin menguat seiring terjadinya konflik-konflik yang melibatkan suku Dayak serta diberlakukannya Otonomi Daerah di Kalimantan Barat. Di lain sisi peran simbol-simbol dalam hal ini sungguh berpengaruh baik itu simbol agama maupun simbol kebudayaan. Oleh kerena itu penulis buku ini dengan berani dan tentunya berdasarkan penelitian yang luar biasa telah membagi dari tiga kabupaten (perwakilan) dan menggali sekaligus mengupas tuntas identitas Dayak di era Otonomi Daerah.


BAB II
LATAR BELAKANG

            Berawal pada kegelisahan akademik penulis berkaitan dengan isu etnisitas yang dikaitkan secara langsung dengan konflik-konflik di beberapa daerah di Kalimantan Barat, penulis merasa terpanggil untuk menyelami lebih dalam lagi tentang etnisitas maupun yang berkaitan dengan identitas Dayak itu sendiri. Dalam kesempatan menyusun disertasi untuk program Doktor pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penulis melakukan penelitian dan diakhir penyusunan disertasi tersebut pada bulan Pebruari 2012 cetakan pertama diluncurkan sebuah buku yang diberi judul Rekonstruksi Identitas Dayak khusus menyoroti peristiwa-peristiwa dan teori-teori pendukung yang akhirnya diharapkan mampu membangun identitas Dayak di era Otonomi Daerah.
            Seperti yang dikatakan diawal tadi bahwa munculnya etnis Dayak dalam panggung politik dan birokrasi di Kalimantan Barat merupakan suatu tanda adanya kebangkitan setelah tidur panjang. Kekuasaan pusat pun secara tidak langsung ikut memberi signal agar masyarakat Dayak khususnya segera sadar akan keterpurukan yang berlangsung sekian lama itu dan bangun secepatnya. Melalui Otonomi Daerah pemerintah ingin memberikan pelayanan khusus bagi daerah-daerah di wilayahnya selain diharapkan mampu membangun sendiri pemerintah juga mengharapkan adanya sumbangsih positif dari daerah yang diberi hak otonomi.
            Melalui program Otonomi Daerah sebetulnya pemeritah “dengan cara lain” bermaksud melakukan pendekatan pada daerah-daerah konflik. Dengan kata lain, hak otonomi diberikan untuk “meninabobokan” masyarakat yang sudah terlanjur tersulut emosi sekaligus benci baik terhadap pemerintah maupun yang berkaitan dengan temperamen psikologis masyarakat yang mudah marah, berbuat kasar atau segala permasalahan baik itu masalah sepele maupun masalah berat selalu diselesaikan dengan “otot”.
            Masyarakat Dayak sebetulnya lebih terbuka terhadap masuknya pengaruh-pengaruh luar baik itu yang berkaitan dengan budaya, agama maupun ekonomi. Salah satu contoh konkretnya ialah orang asing (orang yang bukan dari suku Dayak) yang kebetulan lewat dan singgah atau bermaksud hanya sekedar bertamu selalu disambut dengan baik, dilayani sebaik baiknya karena pada dasarnya orang Dayak itu adalah orang-orang yang peramah. Mereka memiliki prinsip, “asal orang lain tidak terlebih dahulu mengganggu maka kami tidak akan mengganggu”. Hal ini berarti siapa saja selalu diterima dengan baik asalkan tidak membuat ulah di lingkungan atau dengan orang Dayak. Hingga sekarang etnis Dayak masih berpedoman pada hukum “mata ganti mata, gigi ganti gigi dan jika nyawa melayang harus dibalas juga dengan nyawa”. Hal inilah yang membangun paradigma bagi orang di luar etnis Dayak, terlebih masyarakat di luar pulau Kalimantan misal salah satunya pulau Jawa. Saya sendiri pernah mengalami situasi yang memancing emosi. Ketika kuliah di Pulau Jawa, saya sebagai orang Dayak dianggap suka makan orang, suka berkelahi, dan dianggap kolot. Namun sebagai akademisi saya menyikapinya dengan harap maklum dan mencoba membuktikan sendiri bahwa anggapan mereka salah total.
            Melalui buku Rekonstruksi Identitas Dayak ini lebih banyak diharapkan masyarakat non-Dayak dan orang Dayak yang masih mencari identitasnya membaca buku ini agar paradigma-paradigma salah serta pemikiran-pemmikiran yang masih keliru tentang orang Dayak mendapat pencerahan sehingga lebih terbangun suasana saling memahami dan terlebih lagi jangan sampai ada pertikaian yang akhirnya menghilangkan banyak nyawa, kerugian materi maupun dendam secara psikologis  yang tiada henti yang terbangun dari generasi ke generasi.

 BAB III
MENEMUKAN IDENTITAS DIRI
DALAM BUKU REKONSTRUKSI IDENTITAS DAYAK

A.     Masyarakat Dayak Dulu dan Saat Ini
Berbicara mengenai sejarah orang Dayak berarti ikut juga berikut membicarakan budayanya karena masyarakat Dayak tidak terlepas dari kebiasaannya terutama dekat dengan alam. Kedekatan masyarakat Dayak terhadap alam sejak dahulu dapat diibaratkan sebagai keluarga sendiri, dimana alam merupakan tempat berlindung, alam tempat memenuhi hidup, alam yang memberi kekuatan untuk melepaskan diri dari kajahatan. Orang Dayak tergantung dengan alam bukan berarti mengesampingkan perkembangan modernitas. Kepercayaan yang telah diturunkan secara turun temurun oleh nenek moyang orang Dayak berkaitan dengan kekuatan alam masih dilanjutkan hingga saat ini.
Sebelum mengenal agama (terutama agama Katolik dan Protestan) masyarakat Dayak percaya bahwa alam menyimpan kekuatan besar sehingga mampu memberi mereka penghidupan. Tidak heran jika masyarakat Dayak yang masih animisme atau dapat dikatakan belum menganut agama, memberi persembahan di bawah pohon-pohon besar, pada batu yang dikeramatkan, atau di tikungan-tikungan jalan. Mereka meyakini kekuatan yang maha besar itu menghuni tempat-tempat yang telah diyakini daerah huniannya, dimana hunian “kekuatan besar” itu juga di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian masyarakat Dayak hidup berdampingan dengan “yang maha kuasa” tersebut.
Masyarakat Dayak seolah memiliki ikatan khusus dengan alam sejak zaman dahulu sehingga tidak heran komunikasi antara pribadi dan alam sangat erat. Masyarakat Dayak tidak mau membuat alam marah dengan sewenang-wenang mengeksploitasinya. Dalam bukunya yang berjudul Rekonstruksi Identitas Dayak, Andreas 2012: 63 memberi pernyataan:
Contoh pernyataan nyata manusia Dayak sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap alam terlihat dalam hal musibah. Ketika terjadi musibah, tanah rantak (tanah longsor), pembangunan berskala besar, perbuatan zinah, dan pembunuhan, manusia harus melaksanakan upacara ritual besar dan lengkap. Upacara ritual seperti ini disebut ngadati’ ai’ tanah, palayo palansar, tumpuk tampat kadiaman (mengadati air dan tanah, wilayah kerja untuk mendapatkan rezeki, tempat tinggal). Ritual ini mmerupakan tanda komunikasi dari manusia agar hubungan antara manusia dan alam yang telah rusak dipulihkan kembali. Tanah longsor, rusak dan kotor karena perbuatan manusia dipahami sebagai alam yang “sakit”. Kondisi alam yang seperti itu merupakan tanggungjawab manusia sebagai “tetangga alam” untuk memulihkannya. Ini semua dilakukan agar kekotoran dan kerusakan alam tidak bberlarut-larut sehingga menyiksa dan menyengsarakan manusia. Sebagai sebuah sistem, ketika salah satu unsur mengalami kerusakan, maka unsur-unsur yang lain secara otomatis tidak dapat berfungsi dengan baik.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama berkaitan dengan kisah penciptaan, ketika manusia telah diciptakan, Allah memberi kepercayaan pada manusia untuk mengambil dan mengolah ciptaan lainnya untuk digunakan seperlunya demi kepentingan manusia itu sendiri. Masyarakat Dayak pun melakukan demikian juga. Sangat tidak benar jika dalam pemberitaan masyarakat Dayak merusak alam; mereka yang menyebabkan bencana alam dan kerusakan lingkungan lainnya. Demi sebuah “kepentingan” masyarakat Dayak menjadi masyarakat terbelakang dan telah mengantongi identitas “udik”/ kampungan dan sebagainya sebagai tanda orang Dayak harus dihindari. Sekali lagi, masyarakat Dayak sangat menghargai alam karena pada alam mereka hidup dan dengan alam mereka menyatu serta di alam itu hidup pula kekuatan besar serta makhluk-makhluk tak terlihat yang saling menghormati dengan manusia.
Dalam pandangan secara global masyarakat dulu dan sekarang memang mengalami perubahan baik dari segi lingkungan, kebudayaan maupun pola pikirnya. Dari segi lingkungan yang dalam hal ini adalah alam tempat tinggal. Di Kalimantan Barat, etnis Dayak dikenal selain dengan sebutan suku Dayak juga dikenal dengan suku pegunungan (perbukitan) karena tinggal di dataran tinggi hingga ke hutan-hutan dalam. Nenek moyang suku Dayak pada zaman dahulu memiliki hidup nomaden atau berpindah-pindah. Mereka biasanya hidup di satu tempat hanya dalam jangka waktu tertentu dan biasanya ini tergantung dengan lahan ladang yang ditanami padi atau tanaman pokok lainnya. Salah satu tujuan hidup nomaden yang dilakukan oleh nenek moyang orang Dayak adalah untuk “mengistirahatkan” tanah karena telah digarap sehingga struktur tanah tersebut rusak. Agar tanah tersebut “muda” kembali maka tidak ada cara lain yang dilakukan selain mencari tempat tinggal baru dan membuka lahan ladang kembali. Di zaman sekarang gaya hidup berpindah-pindah tempat (nomaden) tersebut tidak lagi dilakukan. Mereka mulai menetap disuatu tempat, berkeluarga dan menggarap serta memelihara lahan yang ada. Masyarakat Dayak yang dulu dikenal dengan orang pegunungan kini banyak yang membangun tempat tinggal dimana bukan hanya dari etnis Dayak saja namun tinggal diantara suku-suku lain misalnya Melayu, Tiong hua, Jawa, Madura, Flores, Batak dan lain sebagainya. Bahkan ada yang memilih hidup di luar pulau Kalimantan dengan  bermacam-macam pula latar belakangnya.
Dari segi kebudayaan dan kesenian etnik Dayak dikenal kaya akan budaya dan seninya. Orang luar yang bertandang di lingkungan yang mayoritas etnik Dayak akan merasa sangat diterima baik, dan hal ini telah dikenal sejak lama oleh orang-orang yang memiliki pengalaman berkaitan dengan ini; jika dalam istilah Jawa diwongke atau merasa sangat dihormati/ dihargai. Memang, jika berkaitan dengan ini etnik Dayak tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mereka tidak segan-segan membantu orang yang kesusahan baik itu sesama mereka maupun orang yang tidak dikenal sama sekali. Budaya ramah ini masih diteruskan hingga ke generasi saat ini. Namun jangan sampai mereka disakiti atau jangan sampai mereka merasa tersakiti, kebuasan orang Dayak akan muncul disitu; Mangkok Merah akan berjalan dan siap-siap terjadi pertumpahan darah. Itulah salah satu sifat orang Dayak. Dari sisi seninya masyarakat asli Kalimantan Barat (Dayak) dikenal bermacam-macam kesenian dari seni tari, seni tato/ ukir dan seni musik serta seni permainan tradisional.
Pola pikir masyarakat Dayak mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Terlebih yang berkaitan dengan pandangan hidup. Zaman dahulu, orang Dayak bekerja hanya untuk keperluan jangka pendek saja bahkan ada yang bekerja dengan hasil digunakan untuk saat itu juga. Mereka melahirkan anak berusaha sebanyak-banyaknya agar kelak membantu orang tuanya menggarap ladang dan sawah. Menurut Andreas 2012: 3 dalam bukunya yang berjudul Rekonstruksi Identitas Dayak, etnik Dayak mulai muncul di panggung politik dan birokrasi di Kalimantan Barat di era dekade 50-an yang ditandai dengan dibentuknya Partai Dayak serta tampilnya Oevaang Oeray sebagai Gubernur Provinsi Kalimantan Barat untuk periode 1961-1966. Peran etnik Dayak mengalami pasang surut karena tercipta oleh situasi kekuasaan pusat. Saat ini seiring perkembangan zaman, masyarakat Dayak telah memiliki banyak peran baik dalam masyarakat sendiri, hingga di pemerintahan. Gubernur Kalimantan Barat sendiri serta posisi penting di pemerintahan dipegang oleh orang-orang Dayak. Inilah yang menjadikan Kalimantan Barat khususnya bagi masyarakat Dayak sendiri merupakan suatu prestasi gemilang yang dicapai.

B.      Diskursus Mengenai Rekonstruksi Identitas Dayak di Era Otonomi Daerah
Beberapa fakta yang melatarbelakangi berkaitan dengan isu sentral diskursus dalam rekonstruksi identitas Dayak di era Otonomi Daerah. Menurut Andreas 2012: 3-6, dalam bukunya yang berjudul Rekonstruksi Identitas Dayak berpendapat  bahwa ada tujuh alasan yang mendorong terjadinya diskursus berkaitan dengan rekonstruksi identitas Dayak di era Otonomi Daerah.
Pada dasarnya suku Dayak sama halnya dengan suku lain ketika di tengah kebimbangan politik, mereka jelas sedang mencari identitasnya yang sejati. Identitas tersebut dapat ditemukan dalam keberagaman persoalan bahkan konflik internal maupun eksternal (dengan suku lain). Persoalan yang ada semakin diperkuat karena melemahnya identitas Dayak yang sedang mencari jati dirinya. Oleh karena itu, masa-masa seperti ini sangat rentan terjadi konflik. Misalnya dalam penuturan Andreas 2012: 3, dalam persoalan ketujuh diungkapkan bahwa orang Dayak sangat mudah teralihkan perhatiannya dengan persoalan-persoalan yang menuntut mereka untuk bertindak dengan kejam dan sangat beringas; sulit dikendalikan. Namun dapat dikatakan sebagai suatu hal yang positif dengan terjadinya pertikaian hebat ini, identitas Dayak justru semakin menguat.
Dengan diberlakukannya Otonomi Daerah juga  menjadi salah satu dorongan sehingga menguatkan identitas Dayak. Hal ini ditandai dengan semakin banyak elite politik daerah yang berasal dari etnis Dayak. Sebenarnya tidak mudah untuk berani mengakui diri sebagai “orang Dayak”; mengaku sebagai orang Dayak berarti harus tahu apa identitas sejati sukunya (dalam hal ini bukan berarti harus sukuisme). Berbekal keberanian dan prestasi akademik, etnik Dayak mampu menunjukan dimata “orang luar” bahwa orang Dayak juga bisa berbuat yang jauh luar biasa demi Indonesia, karena etnik Dayak adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain di masyarakat dan di pemerintahan, etnik Dayak mampu membangun kepercayaan dirinya dengan berperan aktif dalam kegiatan menggereja. Hal ini bukan hal yang luar biasa lagi karena paradigma telah terlanjur terbangun, orang Dayak identik dengan Kristen baik itu Katolik maupun Protestan. Dan memang benar, menurut Andreas 2012: 5, sejak para misionaris tiba di Kalimantan Barat yaitu di Singkawang pada tanggal 30 November 1905 dan di Sejiram tahun 1906, cikal bakal umat Katolik di Kalimantan Barat telah terbangun sejak saat itu. “Agama asli” yang telah dianut nenek moyang orang Dayak secara turun temurun mulai membaur dengan pewartaan para misionaris yang menawarkan keselamatan dari Yesus Kristus. Akomodasi pewartaan para misionaris adalah agama Katolik. Mereka tidak berusaha memusnahkan budaya lokal, namun lewat budaya lokal tersebut iman akan Yesus Kristus terjadi. Masyarakat Dayak menerima pewartaan tersebut dengan senang hati dan menjadikan agama Katolik sebagai nafas iman. Oleh karena itu hingga saat ini antara budaya lokal dan agama Katolik tidak dapat dipisahkan, keduanya saling membangun denga satu tujuan yakni beriman secara lebih mendalam pada Yesus Kristus. Dan tidak heran pula selain mengantongi identitas sebagao orang Dayak, dengan bangga pula mengakui Yesus Kristus sebagai iman sejatinya.

C.     Identitas Dayak dalam Konflik
Negara Indonesia disebut sebagai sebuah Negara Maritim dan Negara Bahari memang telah dikenal di mata dunia. Sebagai Negara Maritim, Indonesia kaya akan wilayah laut dan menghasilkan dari sumber laut berbagai olahan, baik hasil ikan maupun hasil terumbu karang. Karena wilayah Indonesia berjumlah 2/3 keseluruhannya adalah wilayah laut maka tidak ada kemungkinan kekurangan penghasilan laut. Pertanyaannya, sudah maksimal atau belum pengelolaan yang telah dilakukan selama ini? Karena nyatanya para nelayan sekalipun banyak yang berkehidupan pas-pasan. Sisi positif juga banyak didapatkan oleh bangsa Indonesia dengan banyaknya wilayah lautan daripada wilayah daratan. Aset-aset wisata laut atau sungai ikut membantu bertambahnya pendapatan daerah. Namun masih banyak manajemen pengelolaan di sana sini masih sangat minimalis bahkan ada tempat wisata yang memiliki potensi yang besar “dibiarkan” begitu saja tanpa ada yang serius menanganinya.
Sebagai negara yang dikenal juga dengan sebutan Negara Bahari, Indonesia tentunya memiliki kekayaan yang luar biasa pada sisi budaya, kerajinan, kesenian, hingga pluralitas masyarakat dengan karakternya masing-masing. Keanekaragaman suku dan bahasa di Indonesia menuntut masing-masing orang Indonesia agar saling menghormati satu sama lain dan menghargai perbedaan. Di mata dunia, orang Indonesia dikenal sebagai orang yang ramah, sopan dan saling membantu. Hingga saat ini pun pandangan seperti itu masih bergaung merdi di telinga masyarakat Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri juga, dengan kemajemukan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, benturan-benturan kecil hingga yang sangat besar baik antar individu maupun antara kelompok masyarakat sering terjadi. Dari terorisme hingga korupsi juga sering terjadi; dari perampokan hingga pemerkosaan juga pernah terjadi. Dalam media massa, baik itu media elektronik, madia cetak maupun media online, konflik antar suku sering diberitakan. Terlepas dari Provinsi lain, tak kalah berita juga yang ada di Kalimantan Barat. Telah tercatatkan menurut Andreas 2012: 5, selama kurun waktu 47 tahun telah terjadi sebanyak 11 kali pertikaian di Kalimantan Barat.
Pada akhir tahun 1996 hingga awal 1997 terjadi pertikaian yang sangat hebat antara suku Dayak dan suku Madura di Kabupaten Sambas. Pertikaian menurut bahasa setempat disebut “perang” meluas ke berbagai daerah seperti di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Pontianak. Pada tahun 1999, terjadi lagi pertikaian yang sangat hebat antara suku Madura dan suku Melayu di Kabupaten Sambas. Pada tahun 2000, terjadi pertikaian antara suku Madura dan suku Melayu di kota Pontianak.

Dengan melihat pertikaian demi pertikaian di Kalimantan Barat, hampir semua pertikaian tersebut melibatkan suku Madura. Jika demikian, ada apa dengan suku Madura? Dengan melihat  pemetaan suku di Provinsi Kalimantan Barat Barat, suku Madura sebenarnya hanya menempati berapa persen saja keberadaannya di Kalimantan Barat. Namun dengan melihat beberapa pertikaian yang terjadi, suku Madura selalu terllibat di dalamnya; entah sebagai penyebab, sebagai korban atau sebagai dalang dari pertikaian itu sendiri. Dari beberapa penelitian ternyata suku Madura kecil kemungkinan sebagai dalang dari semua kerusuhan. Mereka merupakan korban yang membela diri dengan segala watak atau karakter asli di dalamnnya.
Dalam teori konflik, cenderung komunitas kecil biasanya akan menjadi semakin mudah dijadikan bulan-bulanan atau dengan mudah dijadikan penyebab (“korban”) untuk memenangkan suatu pertikaian. Dengan prosentase yang sedikit namun jika dilihat dari sisi karakteristik, suku Madura yang ada di Kalimantan Barat merupakan komunitas yang memiliki etos kerja keras yang tinggi. Disinyalir, dengan prinsip hidup yang keras ini dapat memunculkan kecemburuan sosial bagi kelompok tertentu. Ditambah lagi kebiasaan orang Madura yang selalu membawa senjata tajam saat mereka bepergian. Kebiasaan ini seolah-olah memberi signal pada orang lain di luar suku Madura agar bila bertemu dengan orang yang selalu membawa senjata kemana saja pergi maka hal tersebut merupakan tanda kejahatan dan jangan pernah menyakitinya. Jika berbicara mengenai karakter, suku Madura memiliki temperamen yang tinggi. Dalam situasi ini, suku Madura berhadapan langsung dengan Suku Dayak yang kurang lebih memiliki karakter yang sama. Dikatakan memiliki “karakter yang sama” bukan berarti orang Dayak tidak ada bedanya dengan orang Madura; perbedaannya jelas pada prinsip hidup. Pada dasarnya orang Dayak tidak mau diusik keberadaannya dan mereka tidak mau memulai pertikaian. Masyarakat Dayak sebenarnya masyarakat yang welcome pada siapa saja yang bertandang di Tanahnya, Borneo. Mereka dengan senang hati membantu siapa saja yang datang ke daerahnya bahkan sampai memberi tumpangan gratis sekalipun mereka dengan tulus melakukannya. Banyak masyarakat pendatang yang bermaksud menggali peruntungan di Tanah Borneo. Mereka menekuni berbagai bidang. Para pendatang ini umumnya orang di luar pulau Kalimantan; bekerja sebagai petani, pedagang, pegawai negeri, pekerja bangunan dan jalan hingga para pengemis dan pengamen. Sifat menerima dan terbuka inilah yang menjadikan masyarakat suku Dayak mungkin termanfaatkan oleh orang-orang tertentu sehingga watak asli suku Dayak keluar; mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan dan jangan sampai “Mangkok Merah” berjalan, karena itu pertanda akan terjadi “perang” yang sudah pasti akan menumpahkan darah bahkan nyawa.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa konflik-konflik di Kalimantan Barat yang melibatkan suku Dayak padan dasarnya berakibat semakin menguatkan identitas “Dayak” itu sendiri, ditambah lagi dengan diberlakukannya Otonomi Daerah; spirit ke-dayak-an semakin jelas dan menguat seiring dengan beraninya beberapa tokoh Dayak menjadi pemimpin di daerahnya sendiri. Jika ji era 60-an Oevaang Oeray tampil sebagai pemimpin Kalimantan Barat, saat ini, terbilang telah terjadi dua periode Kalimantan Barat dipimpin oleh Putera Dayak itu sendiri. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi bagi generasi Dayak selanjutnya. Di bidang akademis pun hingga saat ini telah banyak muncul para akademisi yang dengan segala kemampuannya memberikan banyak perubahan baik itu di Kalimantan Barat sendiri maupun di luar Kalimantan Barat. Sebut saja, perancang bangunan Gereja Katedral St. Yosef Keuskupan Agung Pontianak yang hingga saat ini mulai nampak designnya yang wah adalah Putra Daerah; orang Dayak.
Seiring menggeliatnya etnik Dayak baik secara personal maupun kelompok, kemajuan zaman juga tidak dapat dipungkiri dan dihindari. Jika tidak siap dengan perkembangan zaman maka bersiaplah digilas oleh zaman itu sendiri. Banyak sumber yang mengatakan bahwa sekarang adalah zaman modern, zaman dimana semua fasilitas serba modern. Ada juga yang mengatakan saat ini ialah saat dimana kemajuan teknologi merajai dunia. Masyarakat yang masih bekerja secara manual dianggap ketinggalan dan sebaliknya orang-orang yang sehari-harinya selalu dikelilingi alat-alat dunia maya (handphone, internet, ipad, komputer tablet dan sebagainya) menganggap dirinya pro-aktif dengan kemajuan zaman dan tidak ketinggalan. Akibat negatif dan positif pun bermunculan. Akibat positifnya yaitu masyarakat semakin tahu tentang banyak hal beraitan dengan alat-alat teknologi tersebut, informasi jadi semakin mudah diakses, mengurangi beban tenaga manusia dan lebih meminialisir terjadinya eksploitasi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang hakiki sebagai sumber tenaga kerja utama. Imbas negatifnya juga tidak kalah banyaknya dari manfaat positif tadi. Misalnya: hubungan manusia sebagai makhluk sosial semakin terabaikan. Sebagai makhluk sosial (homo homini lupus) manusia jelas membutuhkan manusia lainnya untuk berinteraksi baik langsung maupun secara tidak langsung. Sebagai makhluk sosial juga, rasa kekeluargaan yang dulunya terpelihara dengan baik kini semakin hilang tergantikan alat-alat modern zaman sekarang. Gotong royong yang menjadi semangat untuk membangun bersama digantikan dengan tenaga upahan bahkan tidak diingat sama sekali. Pada akhirnya manusia hanya memiliki sifat individualistik yang membawa mereka ke jurang ego-sentris yang sangat dalam.
Secara menyeluruh ternyata konflik-konflik yang terjadi bukan hanya karena konflik dalam artian benturan antar suku saja melainkan konflik dalam artian disintegrasi dari diri manusia pada  umumnya dan pada masyarakat suku Dayak khususnya. Jika dahulu masyarakat Dayak hidup berdampingan dalam satu  komunitas yang solid, kini dengan membaurnya hidup dengan masyarakat di luar etnik Dayak hal yang baik tersebut semakin terkikis hilang bak ditelan zaman. Basis identitas suku Dayak mulai tergantikan dengan manipulasi disana-sini terlupakan, misalnya rumah panjang, anyaman, sistem perladangan dan masih banyak yang lainnya. Tidak heran pula persatuan etnik Dayak walaupun kelihatan dari luar masih tetap kokoh namun disana-sini juga telah banyak ketimpangan sosial. Benturan-benturan internal sering dirasakan terjadi.
Di balik semuanya ini, ada satu hal yang masih tetap terjaga dan tak tergantikan hingga detik ini yaitu sistem kepercayaan. Sebagai orang Dayak asli, penulis juga sangat merasakan akan hal tersebut. Bahkan semakin menguat jika akan berhubungan denganNya. Ia adalah Jubata. Masyarakat Dayak yakin bahwa Jubata selalu menyertai mereka seiring dengan alam yang memberi mereka segalanya yang mereka butuhkan. Inilah yang menjadikan identitas Dayak tetap ada dan bahkan semakin menguat manakala mereka yakin Jubata selalu mengiringi langkah hidupnya.

D.     Simbol-simbol yang Membangun Identitas
Orang Dayak dikenal sangat dekat dengan alam sekitarnya sehingga sistem kepercayaan, nilai-nilai budaya, dan kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari pemahamannya tentang alam sekitar (Andreas 2012: 20). Alam memang telah disediakan Tuhan sejak zaman dahulu khusus diperuntukan pada manusia agar digunakan sebaik-baiknya. Masyarakat Dayak juga sejak zaman dahulu telah hidup dari dan bersama dengan alam, maka tidak heran orang Dayak hingga sekarang masih ketergantungan dengan alam. Mereka tidak perlu bersusah payah bekerja karena alam telah menyediakan segalanya. Sebagian besar prinsip ini tidak berlaku saat ini. Tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab mengeruk sehabis-habisnya kekayaan alam, mengeksploitasi segala macam tumbuhan dan jenis hewan. Hewan-hewan dan tumbuhan yang menjadi kekhasan Kalimantan kini sangat sulit didapati; dan jika menemukannya pun tempatnya di kebun binatang atau di balai konservasi milik swasta atau negeri.
Namun tidak menutup kemungkinan pula bahwa masih banyak para generasi Dayak yang mau peduli dan sadar akan terjepitnya mereka di tanah kelahirannya sendiri. Buktinya banyak pula para pencinta hewan dan lingkungan yang tanpa lelah memperjuangkan kelestarian alam. Berkaitan dengan budaya, sekarang banyak berdirinya sanggar-sanggar seni baik itu seni tari, seni musik maupun komunitas yang khusus memberi perhatian lebih pada budaya Dayak; contohnya Institut Dayakologi Research, perguruan tinggi yang berciri Dayak contohnya Sekolah Tinggi Santo Agustinus Pontianak dan lain-lainya. Dengan adanya kepedulian ini Dayak atau etnik Dayak masih mampu bertahan hingga lima ratus ribu tahun yang akan datang bahkan tetap eksis selama zaman masih ada. Simbol-simbol dari etnik Dayak yang mampu bertahan untuk memberikan identitas hingga kapan pun memang tidak jauh dari alam, misalnya Rumah Betang, senjata tradisional, sistem perladangan dan sistem kepercayaan.
Rumah Betang atau Rumah Panjang merupakan tempat untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang berkaitan kegiatan dalam rumah. Selain itu rumah panjang juga merupakan tempat untuk  melaksakan upacara adat serta pertemuan dalam rangka membicarakan keadaan sekitar, perladangan atau untuk membicarakan hal-hal yang dianggap genting. Tempat ini disebut Rumah Panjang karena setiap pemuda/ pemudi yang memiliki keluarga baru diwajibkan membangun ruangan baru dari Rumah Panjang utama. Karena inilah maka ruang-ruang yang ada pada bangunan ini menjadi lebih panjang sesuai dengan jumlah keluarga yang ada. Rumah Panjang atau Rumah Betang dibangun dengan design tiang panjang sehingga memiliki ruangan luas di bawahnya.  Tujuan dibangunnya seperti ini maksud awalnya selain untuk menghindari serangan dari para Pengayau dari binua (daerah/ wilayah adat) lain juga untuk menghindari dari serangan binatang buas. Saat ini, Rumah Betang sangat sulit ditemukan sebagai bangunan yang masih berfungsi sebagai tempat tinggal. Bahkan bangunan yang  ada sebagian besar bahan dasarnya imitasi dari bahan aslinya.
Berkaitan dengan senjata tradisional, masyarakat Dayak memiliki senjata tradisional yang khas. Yaitu tangkitn, sumpit, mandau, badi’, dan tumbak nibukng. Senjata yang paling dikenal adalah mandau dan sumpit. Tangkitn, badi’ dan tumbak nibukng, merupakan senjata tradisional etnik Dayak yang dimiliki secara turun temurun. Erat kaitannya dengann simbol-simbol yang melekat pada masyarakat suku Dayak, yang berikutnya adalah sistem perladangan dan sistem kepercayaannya.
Masyarakat Dayak zaman dulu dikenal sebagai masyarakat yang memiliki sistem ladang berpindah. Maksud berpindah dalam hal ini adalah ladang yang dijadikan lahan untuk membuat ladang hanya ditanami tanaman padi cukup satu kali selanjutnya mereka akan mencari dan membuka lahan baru. Sementara lahan sebelumnya tadi dibiarkan atau diistirahatkan dengan cara ditanami tanam-tanaman buah-buahan dengan pohon yang keras atau ditanami pohon karet. Berkaitan dengan tanah atau hutan, masyarat Dayak sangat percaya bahwa di tempat itu merupakan hunian selain hewan-hewan dan tumbuhan juga merupakan tempat tinggal makhluk tidak kasat mata. Masyarakat Dayak sangat menjaga hubungan ini sebaik-baiknya sehingga jangan sampai ada yang tersakiti atau dirugikan. Oleh karena itu dalam sistem kepercayaannya mereka meyakini ada makhluk yang menghuni di sekitar mereka selain mereka, hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sistem ladang berpindah ini merupakan sistem perladangan maju dengan gaya kuno. Mengapa demikian? Dikatakan sebagai sistem perladangan maju karena masyarakat Dayak tahu bahwa tanah memiliki sifat habis pakai dan tidak boleh diolah secara terus menerus sehingga mengakibatkan tanah tandus dan gersang. Di dukung pula dengan pola kepercayaan yang mengatakan hutan (tanah) memiliki nyawa; nyawa dimana tempat hidup dan mati orang Dayak. Dalam Andreas 2012: 21 dikatakan bahwa, masyarakat Dayak sangat yakin bahwa hutan (dan tanahnya) diciptakan oleh Tuhan (Jubata) agar dapat dipergunakan oleh semua makhluk, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata.
  
BAB IV
KRITIK DAN SARAN

                       Buku yang berjudul Rekonstruksi Identitas Dayak, karangan Dr. Andreas Muhrotien merupakan terobosan terbaik dan sumbangsih yang patut mendapat apresiasi tinggi terutama dari masyarakat Dayak umumnya dan bagi para akademisi Dayak khususnya. Mengapa harus para akademisi Dayak? Buku ini memberikan gambaran besar berkaitan dengan isu etnisitas saat ini, memberikan pemahaman tentang Otonomi Daerah di KalimantanBarat dan terlebih memberi peringatan secara tegas bahwa kaum akademisi Dayak sudah saatnya “menyelamatkan” budaya Dayak yang berkaitan dengan identitas ke-dayak-an seturut disiplin ilmu yang sedang atau telah ditekuninya.
            Kaum akademisi dapat dikatakan pula sebagai kaum muda yang berjiwa muda. Tanpa memperhitungkan tingkatan dan batasan umur, kaum muda seharusnya berpikiran dan bergerak ke depan; melihat peluang apa yang mampu dicapai dalam rangka penyempurnaan dunianya. Kaum muda Dayak sekaligus kaum akademisi seharusnya mempunyai visi untuk Kalimantan Barat, tanah asalnya. Memang saat ini kaum muda Dayak sedikit demi sedikit bangkit berusaha menjadi agen-agen perubahan di segala bidang. Putera daerah menjadi pemimpin di daerahnya sendiri. Banyak pemberdayaan yang telah dilakukannya, baik itu di bidang pendidikan, infrastuktur, tata daerah dan segala macam perubahan yang telah menjadi visi dan misinya saat terpilih menjadi pemimpin. Menjadi agen perubahan tidaklah mudah dan dibutuhkan keuletan serta pantang menyerah akan keadaan yang memaksa untuk mengambil kebijakan segera. Misalnya konflik atau kesalahpahaman yang pernah terjadi pada Oktober 2012 yang lalu di kota Pontianak antara masyarakat suku Dayak dan kelompok Front Pembela Islam (FPI). Sebagai pulau yang semakin hari semakin berciri pluralistik ini, harusnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama yang ujung-ujungnya pasti menimbulkan kekacauan tidak dibiarkan berkibar di Tanah Borneo ini. Tindakan-tindakannya (FPI) sudah jelas dipertontonkan diberbagai media. Ulah kelompok ini sangat anarkis dan tidak bisa ditolelir lagi. Oleh karena itu, melihat gelagat kelompok ini akan meresmikan kelompoknya di Kalimantan Barat, para pemuda Dayak langsung merespon. Karena terjadi kesalahpahaman atau ada penghasut diantaranya maka konflik terdramatisir seolah-olah sangat besar. Nah, keadaan seperti inilah tindakan bijaksana kepemimpinan yang dibutuhkan dan hal itu terjadi.
            Menyinggung pluralitas yang semakin besar prosentasenya di Kalimantan Barat, baik itu dari sisi suku, agama, dan golongan-golongan tertentu serta individu yang berbagai macam, provinsi Kalimantan Barat menjadi provinsi yang majemuk. Di Indonesia sendiri, wacana hubungan antar agama diwarnai perdebatan tentang pluralisme agama, yang pengertian dan pemahamannya masih seringkali belum sepaham. Karena belum adanya kesepahaman tentang keberadaan agama ini maka disana sini muncul konflik dan teror yang berhubungan dengan agama. Kemungkinan hal ini disebabkan pemahaman akan agama sendiri pun sangat berbeda. Memang tidak bisa dipungkiri, setiap agama memerlukan penafsiran akan ajarannya. Dan salah satu penyebab terjadinya teror berkaitan isu agama ini yaitu adanya penafsiran ajaran agama yang keliru dan pencampuradukan urusan agama dengan urusan pemerintahan negara.
            Berkaitan dengan isu konflik serta teror yang erat hubungannya dengan agama, sangat diperlukan dengan apa yang disebut re-evangelisasi atau dakwah-dakwah yang positif serta memberi pemahaman yang benar pada pemeluk agama. Re-evangelisasi dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kembali tentang ajaran agama serta diharapkan kembali pada prinsip dasar keagamaan bahwa setiap agama dan kepercayaan pada dasarnya adalah sama. Tidak ada dari setiap agama dan kepercayaan mengajarkan tentang kejahatan; misalnya Kristen merupakan suatu kepercayaan yang universal berangkat dari arti Katolik yang berarti umum. Islam sendiri artinya damai atau dapat disebut Islam merupakan agama yang mengajarkan tentang kedamaian. Jadi jika ditelaah sedikit lebih jauh, terjadinya teror (seringnya yang menjadi korban adalah umat Kristiani) karena disebabkan pamahaman serta penafsiran yang keliru terhadap ajaran agama ditambah lagi dengan pengetahuan yang kurang akan agamanya sendiri.
            Lain halnya dengan fenomena pencampuradukan urusan agama dengan urusan pemerintahan negara. Lagi-lagi FPI yang menjadi alat percontohan. Indonesia memang majemuk di segala bidang. FPI seolah-olah tutup mata akan keberadaan kemajemukan ini terlebih yang berkaitan dengan kemajemukan agama atau kepercayaan. Mereka bertindak seoalah-olah aparat resmi pemerintah. Mereka melakukan razia yang seharusnya tugas polisi atau satuan pamong praja, mereka dengan gagahnya membakar tempat ibadah dengan alasan agama sesat atau mengajarkan kesesatan, hingga dengan tekad dan perasaan benar mereka melakukan aksi bom bunuh diri ditengah orang ramai dengan alasan membunuh orang kafir agar mendapat pahala besar di surga. Sungguh najis perbuatan seperti ini, namun entah kenapa seoalah-olah mereka dibiarkan saja terus beraksi sehingga muncul pemikiran: jika demikian apa bedanya aparat dengan FPI?
            Dengan diberlakukannya Otonomi Daerah seharusnya menjadi peluang besar bagi pemimpin Kalimantan Barat yang secara kebetulan adalah orang Dayak. Dan hal ini telah terjadi. Beberapa posisi strategis di pemerintahan baik tingkat provinsi, kabupaten hingga kecamatan diduduki oleh orang Dayak. Salah satu bukti bahwa orang Dayak ternyata juga bisa berpikiran maju untuk membangun daerahnya. Sedikit demi sedikit konotasi awal berkaitan dengan penyebutan Dayak mulai dilupakan. Jika pada masa Orde Lama kata “Dayak” dikonotasikan sebagai bentuk penghinaan terhadap etnik, saat ini kata “Dayak” menjadi sebuah kebanggaan. Tentu hal ini tidak terlepas dari adanya konflik yang melibatkan etnik Dayak di dalamnya serta penyebutan Dayak dengan konotasi hina itulah maka identitas Dayak menjadi jelas dan membanggakan. Kaum muda Dayak diharapkan mampu memelihara kebanggaan ini. Lewat aktivitas di sanggar-sanggar seni Dayak dan kegiatan akademik serta kesadaran akan pentingnya persatuan dalam suku tanpa harus bersikap sukuisme dan juga meneruskan cita-cita pewartaan awal para misionaris tentu Dayak akan tetap eksis dan semakin solid paling tidak seratus tahun ke depan.

Sumber utama tulisan ini dari:
Muhrotien, Andreas. 2012. Rekonstruksi Identitas Dayak. Yogyakarta: TICI Publications.












           










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar